Arsip untuk ‘cerpen’ Kategori

SENJA ITU INDAH

Mei 1, 2008

Senja mulai memerah di ufuk barat dengan bermuram sang mentari beranjak ke peraduanya angin semilir sepoi – sepoi daun – daun melambai menambah indah hiasi alam, burung- burung berterbangan seolah berlomba bergegas menuju sarangnya.

Seorang gadis berjalan dia tanpak Ayu memakai jilbab biru muda tapi entah mengapa bermuka suram sesuram mentari yang hendak tinggalkan bumi, Matanya merah hidungnya pun merah sesuatu telah terjadi kepadanya apakah gerangan yang membuat gadis nan Ayu itu bermuka suram…?

Ia berjalan cepat sekali seperti hendak berlari sesekali ia menyeka airmatanya yang jatuh di pipi ia takmau kesedihanya di ketahui orang – orang yang ditemuinya, ia igin cepat – cepat sampai rumah memeluk gulingnya dan menumpahkan airmatanya hingga tak tersisa.

Zahra… Itulah nama gadis itu mahasiswi semester 4 Universitas Muhammadiyah Surabaya ia baru pulang dari acara IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) tapi sekali lagi apakah gerangan yang membuat gadis bermata sipit itu menangis…….?

Sampai di rumah ia mengurung diri di kamar tak terasa adzan maghrib pun berkumandang

Hayya ‘ala sholaa………..

Hayya ‘ala sholaa…………

Tok… tok… tok…. Ada yang mengetuk pintu kamarnya, Zahra tak menghiraukan sama sekali

Tok… tok… tok….

“ Zahra maghrib dulu, ada apa sih sayang dari tadi kok belum keluar buruan gih wudhu papa sudah menunggu kita sholat maghrib sama – sama”

Terdengar panggilan mamanya Zahra, memang tiap hari Zahra sholat manghrib berjamaah dengan keluarga tapi kali ini ia tidak mau bukan karena malas tapi ia takmau kesedihanya diketahui oleh orangtuanya

“ Ya ma.. Zahra dah maghrib tadi di kamar”

“ Ya sudah mama maghrib dulu sama papa”

Zahra bergegas mengambil air wudhu dan siap – siap sholat maghrib di kamar meskipun hatinya sangat sedih tapi kewajiban yang stu ini tak pernah di tinggalkanya. Setelah selesai sholat maghrib ada yang mengetuk pintu kamarnya lagi.

“ Zahra… keluar donk sayang ma’em dulu nanti kamu sakit lo….”

Lagi – lagi suara mamanya yang memanggil, Zahra tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya

“ Zahra ngak lapar ma.. mama makan duluan saja ma.. nanti Zahra nyusul kalau sudah lapar”

“Gini Zahra mama sama papa mau ngomong sama kamu penting banget jadi kamu keluar ya sayang mama tunggu di meja makan tu mama sudah di panggil papa”

Sebenarnya enggan Zahra tuk keluar kamar tapi ia paksakan ia tidak mau mengecewakan orang tuanya ia duduk di meja rias ia oleskan sedikit bedak di mukanya biasanya ia enggan memakai bedak mungkin sesekali saat ia hendak berangkat ke kampus sebenarnya bedak itu hanya untuk menutupi raut mukanya yang tampak sedih ia tidak mau mamanya khawatir melihat wajahnya yang suram, setelah selesai makan papanya langsung bicara

“Zahra kamu ingat bulan lalu papa diminta atasan papa untuk pindah tugas ke malang tapi ngak jadi karena suatu hal dan papa tadi dapat telpon dari atasan papa bahwa papa harus segera pindah ke malang, jadi minggu depan kita sekeluarga harus pindah ke malang dan.. papa tidak mau meninggalkan kamu sendirian di sini”

“ Jadi….. Zahra harus pindah kemalang pa….”

Tiba – tiba airmata Zahra jatuh berlinang entah apa yang ada di fikiran Zahra sedih karema harus pindah ke malang ataukah sedih karena kejadian tadi sore pada rapat bulanan IMM. Tiba- tiba ia teringat kak Fadhill mahasiswa S1 semester akhir UMS Juga ketua umum bidang KPSDM (Kaderisasi dan pengembangan sumber daya manusia ) dan Zahra menjabat sebagai sekretarisnya. Ia teringat Fadhill mengajak gadis berjilbab merah hati ia tampak cantik meskipun agak malu – malu Fadhill mengenalkan kepada semua anggota IMM bahwa gadis itu adalah calon isterinya yang telah di Khitbahnya. Ayu…… ya nama gadis itu Ayu Fadhill Cerita banyak tentang dia dan mereka akan segera melangsungkan pernikahan bulan ini juga. Tapi mengapa Zahra menangis ada apakah antara dia… Fadhill…. Dan Ayu….

Sedikit mengulas sejarah mereka Fadhill adalah kakak kelas Zahra waktu SMA dulu ia sangat perhatian kepada Zahra entah karena cinta ataukah simpati belaka yang jelas Zahra sangat dekat dengan Fadhill. Ia menaruh hari kepada kakak kelasnya itu hingga setelah lulus Fadhill melanjutkan kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) Fadhill juga merekomendasikan Zahra agar setelah lulus nanti melanjutkan kuliah yang sama dengan Fadhill. Saat lulus sebenarnya Zahra telah diterima di Universitas Negeri Surabaya tapi karna simpatinya kepada Fadhill ia urungkan niatnya dan melanjutkan di UMS dan fakultasnya pun sama dengan Fadhill bahkan ia juga mengikuti IMM ia menjabat sekretaris bidang KPSDM dan Fadhill adalah ketuanya. Karena bidang KPSDM sering mengadakan kegiatan otomatis mereka sering bersama – sama. Ehm maksudnya bersama di sini tentu bersama Ketua Sekretaris dan juga anggotanya bukan hanya mereka berdua. Hingga Fadhill mengenalkan calon isterinya hubungan mereka bik – baik saja dan zahralah yang paling terkejut atas keputusan Fadhill yang mendadak ini.

“Zahra mengapa nangis…. Kalo kamu ngak mau ikut papa ke malang juga gak apa – apa nanti kamu tinggal di Surabaya di rumahnya nenek”

Papanya mengira Zahra menangis karena tidak mau pindah ke malang

“ Tapi… mama sangat mengharapkan kamu ikut mama ngak tega meninggalkan kamu sendiri di sini… biar nanti kuliahmu pindah juga bukankah di malang juga ada Universitas Muhammadiyahnya juga, biar surat kepindahanya di urus oleh papamu….”

“ Pa… ma…. Zahra ngak bisa ambil keputusan sekarang Zahra binggung besok saja ya ma… Zahra mau bobok dulu assalamu’alaikum.”

Zahra langsung beranjak meninggalkan kedua orangtuanya dia langsung ke kamar memeluk gulingnya airmatanya sudah tidak bisa di bendung lagi ia menangis jika ia harus pindah ke malamg maka ia tidak akan bertemu dengan Fadhill bagaimana dengan Fadhill relakah ia jika orang yang di cintai harus menikah dan itupun dengan orang lain. Ia buka HP nya ia baca sms dari Fadhill yang disimpanya terlihat gambar gadis cantik memakai jilbab dan teks di bawahnya

“ Dia tanpak Ayu nan rupawan dikala jilbabnya menghias di kepala sorot matanya tajam dikala memandang senyum mengulum hiasi bibir manisnya…”

Zahra menangis pipinya basah oleh air mata bedak yang di oleskanya tadi sudah tidak tampak lagi yang tampak adalah kesedihan ia teringat betapa dekatnya ia dengan Fadhill ia teringat saat baru masuk kuliah seorang mahasiswa senior menggodanya hingga jilbab Zahra hampir telepas Fadhill langsung menghadiyahkan tinju besar ke muka mahasiswa itu, ia tak pernah melihat Fadhill semarah itu Fadhill marah saat ia di goda mahasiswa lain, sejak saat itu Zahra tau bahwa Fadhill memiliki perasaan yang sama dengan dia tapi mengapa sekarang Fadhill malah mau menikah dengan Ayu apa sebenarnya yang telah terjadi antara Fadhill dan Ayu apakah telah terjadi sesuatu yang di haramkan antara mereka, tiba – tiba Zahra berprasangka buruk tentang meraka.. astaghfirlloh… ia hilangkan fikiran jelek tentang mereka ia yakin Fadhill tidak mugkin melakukan hal itu ia tau dan sangat kenal dengan Fadhill bertahun – tahun bersahabat menjabat tanganya pun tak pernah.

***

Pagi itu Zahra pergi kuliah kali ini ia memakai kacamata padahal tak sekalipun pernah memakai kacamata ia hanya ingin menutupi matanya ia tidak mau banyak pertanyaan muncul karena matanya yang bengkak.

Baru saja mau masuk ruangan disana ada Fadhill dan Ayu, Ayu rencananya juga akan pindah kuliah di UMS atas permintaan Fadhill, apakah posisinya benar – benar telah digantikan oleh Ayu.. tenggorokan Zahra sakit seperti ada yang mencekik sakit luar biasa bahkan untuk menelan ludah saja tidak bisa ia ingin menangis tapi ia tahan ia tak mau menangis di depan teman – temanya

Fadhill dan Ayu mendekati Zahra yang baru mau masuk ruangan

“ Zahra… Ayu akan pindah kuliah di sini ia satu fakultas dan juga satu semester dengan kamu kakak berharap kamu bisa membantu dia beradaptasi dengan matakuliahnya dan juga dengan teman – teman barunya ..”

Seperti petir yang menggelegar ucapan Fadhill apakah ia tidak sadar bahwa Zahra kecewa dengan rencana pernikahanya tapi mengapa ia justru menyuruh Zahra membantu Ayu apakah ia tidak mengerti perasaan Zahra tenggorokan Zahra semakin sakit ia tidak mampu lagi bersuara, ia mencoba sebisa mungkin mengeluarkan suara

“ Iya kak Fadhill Insyaallah saya akan Bantu sebisa mungkin dan bukan hanya saya yang akan Bantu temen – teman juga .”

“ Zahra… ini buku punya kamu….”

Terdengar suara Rina, beruntung sekali Zahra di panggil Rina jadi ia tidak perlu susah – susah mencari alasan untuk meninggalkan Fadhill dan Ayu ia tak tahan jika harus terlalu lama dekat dengan mereka..

“ Yang mana…..” Zahra langsung pergi mendekati Rina sementara Fadhill dan Ayu meninggalkan ruangan

“ Yang ini lo Zahra… aku kok lihat kamu bawa kemaren tadi aku temukan di sini…”

“O… ini miliknya kak Ridho kemaren aku bawa…”

“Oh ya Zahra beruntung sekali ya Ayu dia dapatkan kak Fadhill yang tampan baik pengertian juga pintar.. ketua bidang KPSDM lagi.. banyak gadis yang mengejar – ngejar dia..”

“ Ya… dia memang beruntung..” dalam hati Zahra berkata “ seharusnya itu aku, aku yang menikah dengan kak Fadhill bukan dia”

Kembali angan – angan Zahra melayang –layang ,

“ Tapi Zahra … ni katanya lo kak Fadhill sebenarnya tidak mencintai Ayu tapi ia di jodohkan oleh papanya kak Fadhill.”

“ Ah… itu mungkin hanya gossip kamu tau dari mana sih..”

“ Eh ini bener .. dari sumber yang dapat di percaya… dia di jodohkan oleh papaya….

“ Eh prasangka itu tidak baik lo….”

Dalam hati Zahra berkata

“O…. jadi itu alasan kak Fadhill mengambil keputusan yang mendadak itu berarti dia memang benar – benar mencintai aku.. ini tidak adil seharusnya aku yang menikah dengan kak Fadhill bukan dia… aku harus berbuat sesuatu tapi apa.. apa.. . apa yang harus aku lakukan agar kak Fadhill berubah fikiran”

***

Zahra tidak konsen lagi dengan mata kuliahnya yang ada di fikiranya hanya Fadhill.. Fadhill.. dan Fadhill. Ia tidak mengikuti semua mata kuliahnya ia pulang, sampai rumah ia langsung masuk kamar.

Di kamar Zahra mondar mandir kaya setrikaan sesekali mengerutkan keningnya ia berfikir keras bagaimana caranya menyadarkahn Fadhill bahwa mereka saling mencintai mereka mampu melawan arus Fadhill tidak harus menerima perjodohan ini.

Ia duduk di meja belajar ia melihat novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman ia buka lembar pertama ada tulisan tangannya ia menangis… ia ingat novel ini adalah pemberian kak Fadhill dia baca tulisan itu.

Ketika purnama datang

Aku adalah orang pertama yang berdiri memandang menikmati indahnya bulan

Tapi mengapa….

Malam ini sunyi… sepi…

Tak ada bulan yang menyinari…

Mugkin karna langit lepaskan gerimis

Hingga bulan tak tampak cahyanya..

Bulan …… Masih adakah kau di sana

Di sini bintang menantimu….

Ia akan setia menjagamu…

Ia takkan bergerak sejengkalpun..

Ia akan menunggu hingga purnama datang lagi…

Zahra menangis lagi ia teringat buku ini di berikan kepadanya saat ia masih SMA ketika itu ia terpilih mewakili sekolahnya untuk mengikuti lomba CCA (Cerdas Cermat Agama) tingkat profinsi tapi saat itu ia jatuh dari sepeda saat pulang dari rumah Fadhill, zahra dirawat dfi rumah sakit ia menangis seharian bukan karena sakit tapi karena ia tidak bisa mengikuti lomba CCA ia sedih karena ingin membuat kedua orangtuanya bangga kepadanya, Fadhill menjenguk dan memberikan buku itu sambil menghiburnya

Zahra menutup bukunya matanya basah karena airmata “apakah aku harus menulis surat untuk kak Fadhill” ia diam sejenak ia mengambil kertas dan bullpen ia mulai menulis sesuatu

Kepada,

Kak Fadhill

Yang sangat aku hormati dan juga…

Ia hentikan langkah bulpenya, “ apakah aku harus serendah itu menulis surat kepada lelaki yang bukan muhrin apalagi surat ini karena cinta … aku tak peduli ini demi masa depanku dan kak Fadhill aku tak peduli apa kata orang – orang tentang aku” lalu dia mulai menulis lagi

Kepada,

Kak Fadhill

Yang sangat aku hormati dan juga….

Sangat aku cintai

Assalamu’alaikum wr. Wb

Pertama – tama ku haturkan salam yang tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam semoga kakak tetap dalam lindungan Allah swt. Tetap dalam keadaan iman dan ikhsan.

Kedua jika karena surat ini mengganggu fikiran kakak aku mohon maaf yang sebesar – besarnya

Kak Fadhill yang tercinta

Aku tahu mungkin kakak telah menduga isi surat ini. Kak Fadhill…… karna cinta aku tulis surat ini untuk kakak. Karna sayang ku rangkai kata untuk kakak. Karna kebahagiaan aku rela korbankan harga diriku di depan kakak. Kak Fadhill….. karna perhatian kakak… karna simpati kakak… karna bimbingan kakak.. membuatku jatuh hati pada kakak. Kak Fadhill…. Apakah kakak mempunyai perasaan yang sama denganku….

Kak Fadhill yang tercinta

Aku tahu sejak dulu kakak juga mencintaiku.. meskipun perasaan itu kakak sembunyikan dengan rapat, aku tahu dari semua yang kakak lakukan untuk aku dari puisi puisi kakak jika puisi itu bukan untukku mengapa kakak kirimkan ke aku.. sesungguhnya perasaanku sudah jelas. Kakak… sebenarnya aku menunggu pinangan dari kakak karena tugas wanita hanyalah menunggu… tapi mengapa kak sekarang kakak malah ingin menikah dengan orang lain, apa salahku kak.. apa….. hingga kakak tega menyakiti hatiku. Hingga kakak tega tusukkan panah beracun ke jantungku.

Kak Fadhill yang tercinta

Aku harus bagaimana kak agar aku bisa hidup dengan orang yang ku cinta… dan orang itu adalah kakak. Mungkin ini sama dengan impian Shinta kepada Rama atau impian Juliet kepada Romeonya atau mungkin juga Impian Laila kepada Majnunnya dan juga sama dengan impian Cleo patra kepada Julius Caessar. Kak Fadhill…. aku tahu masalah kakak.. aku tahu kakak tidak mencintainya, Aku tahu kakak dijodohkan aku tahu itu bukan kehendak kakak, Tapi mengapa kakak sebodoh itu kakak rela korbankan kebahagiaan kakak demi orang lain sedangkan di sini ada wanita yang dengan tulus mencintai kakak menginginkan kebahagiaan itu.

Kak Fadhill Yang tercinta

Kakak…. Ku ulurkan tanganku mengajak kakak menuju kebahagiaan. Kak Fadhill sambutlah tanganku kak… bergegaslah karna ku tahu kita saling mencinta… pecinta sejati mampu melawan arus, Pecinta sejati mampu robohkan tembok yang menjulang tinggi.. Jika kakak tidak menyanbut uluran tanganku maka katahuilah saat kakak mencium keningnya ada hati yang terluka saat kakak membelai rambutnya di sini aku menangis karena tersiksa….. Aku adalah pecinta sejati aku juga tahu kakak juga pecinta sejati….. ku tunggu jawaban kakak secepatnya.

Wassalamu’alaikum wr. wb

Yang selalu mencintaimu

Zahra

Zahra memasukkan surat itu ke dalam amlop. Ia lalu tidur baru kali ini ia bisa tidur dengan nyenyak

***

Pagi itu di kampus UMS Zahra berjalan cepat sekali dengan membawa amlop di tanganya tiap mahasiswi dia Tanya dimana Fadhill, ada yang bilang dia di perpustakaan Zahra langsung menaiki tangga karena perpustakaan ada di lantai atas

“ Zahra… sini… tugasku yang kemaren mana…ada yang harus aku revisi sedikit” terdengar suara Rina memanggil, Zahra membalikkan badan

“O…tugas resensi ya… sebentar aku cari..”

Zahra dan Rina mencari tempat duduk, Zahra mengeluarkan isi tasnya ia mencari –cari tugas itu tapi tidak ketemu

“ Rina… maaf ya.. mungkin ketinggalan di rumah biar aku ambil kamu tunggu sebentar ya..” kata Zahra sambil berdiri

“ Zahra gak usah kalo ngak ada ya ngak apa-apa besok masih bisa, lagi pula kan dikumpulkanya masih besok, aku kasihan sama kamu harus bolak – balik pulang..”

“ Eh ya udah makasih ya… kalo gitu aku kesana dulu ya…”

“ Sebentar sini dech.. kamu tahu ngak kabar terbarunya kak Fadhill”

Zahra terperanjak dan langsung duduk memperhatiakn Rina

Ada apa dengan kak Fadhill…” Tanya Zahra dengan selidik

“ Kamu inget Ayu.. Calon Isterinya kak Fadhill, kasihan banget ya dia….” Belum selesai Rina bicara Zahra langsung memotongnya

“ Kamu ini gimana to rin… kemarem katanya bruntung sekali Ayu sekarang kok tambah kasihan banget ini yang benar yang mana….”

“ Zahra… kalo orang lagi ngomong jangan di potong dulu donk… gini lo maksudku kasihan banget dia Bicause ibunya meninggal saat melahirkan dia, ayahnya juga baru saja meninggal. Tau ngak ayahnya itu temenya papanya kak Fadhill, kamu inget kan papanya kak Fadhill ginjalnya sakit sebelum ayahnya Ayu meninggal ia mendonorkan ginjalnya untuk papanya kak Fadhill, sejak saat itu papanya kak Fadhill berjanji akan menjaga Ayu makanya ketika ayahnya Ayu meninggal ia langsung di jodohkan dengan kak Fadhill karna papanya kak Fadhill benar – benar menginginkan Ayu menjadi anaknya..”

Zahra kaget bukan main tiba – tiba rasa ibanya muncul dalam hati ia berkata “ Apa yang akan aku lakukan pada Ayu.. kasihan dia, dia tidak punya siapa – siapa lagi di dunia ini kehadiran kak Fadhill ibarat purnama saat gelap gulita bagi dia, tapi begitu teganya aku ingin merebut purnama itu, Ayu lebih membutuhkan kak Fadhill dari pada aku, dia lebih pantas mendapatkan kak Fadhill”

Zahra meremas amlop yang ada di tanganya ia urungkan niatnya untuk memberikan surat itu kepada Fadhill, ia ingin menangis tapi sebisa mungkin ia tahan lagi – lagi tenggorokanya sakit

“ Zahra kamu kenapa… ngak apa – apa kan..” sambil senyum yang di paksa ia menjawab

“ Ngak apa – apa kok aku cuman teringat tugas kamu yang ketinggalan aku ngak enak sama kamu..”

“ Zahra …. Ngak apa-apa lagian besok kan masih bisa…. Ya sudah aku kesana dulu ya…”

Rina pergi meninggalkan Zahra, Zahra tak bisa menahan airmatanya ia menangis lagi… Lalu datang Ridho ia juga teman SMA Zahra dulu satu kelas dengan Fadhill tapi tidak seterkenal Fadhill ia sahabat Zahra dan Fadhill tidak jarang ia jadi tempat curhat mereka jadi Ridho sangat mengetahui masalah yang menimpa Zahra dan Fadhill

“ Zahra kok nangis…..”

Zahra langsung menyeka airmatanya.

“ Zahra mengapa nangis… kalau ada masalah cerita saja sama kakak mungkin kakak bisa Bantu”

Zahra menangis lagi…

“ Kak Ridho… menurut kakak….. aku… sama Ayu… lebih baik siapa sih kak… “

Ridho agak kaget mendengar pertanyaan Zahra tapi dengan segera ia bisa meraba arah pembicaraan Zahra karna ia tahu Zahra dan Fadhill saling mencintai, ia mencoba tersenyum untuk menghangatkan suasana yang tegang

“ Em…… ya lebih baekan kamu donk kamu kan adek kakak yang paling cantik…. Baek…. Pinter… yato…”

“ Tapi mengapa… kak Fadhill… lebih memilih Ayu dari pada aku….”

Zahra makin jadi menangisnya

“ Zahra …. Sudahlah kamu ngak usah menangis lagi.. kakak tahu masalah kalian, kakak tahu Fadhill sangat mencintaimu bahkan dia berencana mengkhitbahmu saat dia lulus S1 nanti, tapi… mungkin Allah berkehendak lain ayahnya menjodohkan dia dengan Ayu, kamu tahu saat itu ia binggung sekali dia telpon kakak ber kali – kali tapi kakak ngak bisa kasih pendapat tentang hal ini karena ini menyangkut kebahagiaan kalian juga Ayu dan yang lebih penting Orangtua Fadhill, Fadhilll juga menitipkan kamu ke kakak”

“ Pastinya kakak lebih tau apa yang membuat aku bahagia kan..”

“ Ya kakak tau tapi apakah kamu tega bahagia di atas penderitaan orang lain… Ngak kan… kakak tau kamu berhati mulia, pernikahan itu sudah direncanakan secara matang kamu tidak mau merusak semuanya kan… Zahra… dasar menikah itu bukan hanya cinta kakak tau kalian saling mencintai tapi apa gunanya cinta jika setelah menikah nanti kalian hanya membuat orangtua Fadhill malu kepada Ayu. Kamu juga harus memikirkan Ayu dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, munkin setelah ini Ayu ngak akan mau tinggal di rumah Orangtuanya Fadhilll lagi…”

Mereka berdua diam, Zahra telah berhenti menangis kali ini ada sedikit senyum di bibir manisnya.

“ Zahra… kakak tau kamu sangat berharga bagi kami, kakak yakin kamu kan dapatkan jodoh sebaik Fadill”

“ Ya kak Zahra kan terus berdo’a agar Allah karuniai aku jodoh sebaik kak Fadhill.”kata Zahra sambil tersenyum.

“ Ya… gitu donk kalo senyum gitu kan cantik adek kakak. Eh Zahra bulan depan IMM akan mengadakan diskusi tentang “ Novel Cinta Pembangun Jiwa” kali ini nara sumbernya Habiburrahman El Zhirazi penulis novel yang terkenal itu, kamu yang jadi moderatornya ya… kakak tau kamu kan ngefans banget sama kang abik”

Zahra senang mendengar kabar itu tapi tiba-tiba wajahnya berubah ia teringak kata-kata papanya ia sedikit merenung.

“ Kak Ridho… Minggu depan Zahra akan pindah ke malang

“ Zahra… kamu jangan bercanda gitu donk”

“ Bener kakak Zahra ngak bercanda”

“ Loh kenapa Zahra.. kok mendadak banget”

“Papanya Zahra sekarang tugas di malang jadi kami sekeluarga harus pindah ke malang, ya… mungkin ini yang terbaik buat aku, jauh dari kak Fadhilll dan Ayu…mugkin aku bisa merelakan kak Fadhill menikah dengan Ayu tapi aku ngak bisa jika harus selalu dekat dengan mereka karna itu hanya akan membuatku ingat pada kak Fadhilll.”

Ridho diam sejenak sebenarnya dia tidak setuju dengan kepergian Ayu

“Ya… Kamu mesti cari penggantinya donk, biar ngak terus inget sama Fadhilll, kakak mau jadi penggantinya..” kata Ridho sambil bergurau, sebenarnya kata-kata itu tulus dari hati Ridho karena sejak dulu Ridho memang memendam perasaan itu pada Zahra tapi karena temanya Fadhilll juga punya perasaan yang sama jadi ia tidak berani ungkapkan perasaan itu.

“ Bener kak Ridho…? Tanya Zahra juga sambil bergurau

“ Ya… Bener kamu mau ngak kakak lamar sekarang…?

“ Ya… munkin jika kakak melamarku sekarang akan ku terima, tapi bukan berarti benar-benar bisa menggantikan posisi kak Fadhill di hatiku, karna semua itu butuh waktu dan juga proses ya kan..” mereka berdua tersenyum.

“ Ya… tapi jika aku pindah ke malang nanti aku kan tetep nunggu sms kak Ridho…”Kata Zahra dengan senyum yang lebar sedangkan muka Ridho berubah jadi merah.

***

Zahra mengikuti matakuliahnya dengan baik begitu juga Ridho, setelah selesai mereka bertemu lagi pada rapat IMM yang menbahas diskusi bulan depan, seperti biasa mereka saling senyum kali ini Zahra tidak memperhatikan Fadhill sedikitpun ia tidak mau rasa simpatinya muncul lagi. Acara pun selesai seperti biasa hingga sore mereka baru pulang Ridho mendekati Zahra dan mengajaknya pulang

“ Zahra pulang bareng kakak yuk…”

“ Em… ya dech tapi pulangnya jalan kaki aja ya…”

“ Ya sudah terserah kamu saja….”

Mereka berjalan menuju rumah,Ridho membawakan buku Zahra mereka berjalan berdampingan dengan jarak yang sedikit dekat, jilbab Zahra melambai di tiup angin.

“ Kak Ridho senja kali indah ya…”

“ Iya… kenapa…? menurut kakak sama seperti kemaren…”

“ Kalau menurut Zahra kali ini lebih indah”

Angan angan Zahra melayang ia teringat dulu ia sering saat senja berjalan dengan Fadhill, ketika itu ia tidak punya ongkos pulang jadi mereka memutuskan untuk jalan kaki sebenarnya Zahra lebih senang jalan kaki karna itu membuat mereka lebih dekat waktu itu senja terasa indaaaah sekali bagi Zahra, ia juga ingat saat pertama kali tau bahwa Fadhill akan menikah senja itu ia berjalan dengan menangis ia tidak dapat membayangkan bagaimana mukanya waktu itu andai saja di jalan ada cermin yang besar pasti Zahra malu sendiri. Sedangkan senja kali ini ia bersama kak Ridho, ia tersenyum sendiri mengingat semua ini, mungkin Allah telah menakdirkan senja yang selalu indah untuk Zahra.

Senja kali ini masih sama dengan yang kemaren masih ada agin yang semilir sepoi-sepoi daun pun masih setia melambai masih banyak burung-burung yang berterbangan menuju sarangnya kali ini mereka terbang bersama-sama tak ada satupun yang berusaha mendahului temanya, oh ya… ada yang beda dengan senja kali ini mentari berajak ke peraduanya kali ini ia pergi dengan senyum, senyum yang mengembang mungkin ia sadar tidak perlu sedih meninggalkan siang toh besok kan bertemu lagi jadi buat apa sedih itu sudah menjadi kehendak ilahi, mentari meninggalkan bumi dengan tersenyum manis semanis senyum Zahra kali ini.

***